Masalah Kemacetan di Ibukota

A.  Pendahuluan

Kemacetan, sebuah kata yang cukup tidak asing ditelinga kita. Dan masalah mengenai kemacetan seperti ini sangatlah lekat dengan kita khususnya warga perkotaan. Tidak hanya di Indonesia saja memang permasalahan semacam ini sering  terjadi. Karena itu seakan sudah menjadi aktivitas yang selalu kita alami dan akan selalu kita rasakan. Apa sebenarnya yang menjadi permasalahan utama hingga terjadi kemacetan?. Sungguh bagaikan permasalahan yang sangat besar yang hampir tidak dapat untuk ditangani. Bahkan pemerintah sendiri seolah-olah kewalahan untuk mengatasi hal ini. Sementara dilain pihak masyarakat  terus menuntut untuk segeranya penanganan akan masalah seperti ini. Dan pemerintah sendiri sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tapi kenyataan tetap saja tak berpihak pada pemerintah ataupun kita yang secara langsung merasakan dampaknya sehari-hari. Terlalu lelah hanya menghabiskan waktu memikirkan tentang kemacetan. Disini saya akan membawa pembaca sekalian untuk mengulas lebih jauh mengenai apa itu kemacetan, penyebab kemcetan yang akan ters menghantui masyarakat, dampaknya yang kita rasakan, bagaiman kita mengatasinya, adakah cara untuk mengurangi saja yang namanya kemacetan itu.

B.  Penegertian “Kemacetan”

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan dimana jumlahnya melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk yang terus saja berkembang. Berikut adalah data negara yang memilki tingkat kemacetan terparah : Tokyo, Los Angeles, Sao Paolo, Bangkok, Moscow,Shanghai, Mumbai, Mexico, New York, Seoul,Chcago, Manila, London, Jakarta, Osaka, Venezuela, Athens, Auckland, Rio de Janeiro, Kathmandu. Dan sungguh menakjubkan sekali Indonesia masuk dalam peringkat ke-14 karena ternyata lebih dari 100 mobil baru muncul di jalan Jakarta tiap harinya. Apakah kalian pikir ini tidak berakibat pada kemacetan?. Kota yang memang dari segi kepadatan penduduk tidak masuk akal dan cukup luar biasa. Ternyata tidak hanya jakarta dan bangkok yang menjadi kota dengan permasalahan yang sama mengenai kemacetan. Kemacetan lalu lintas juga terjadi di kota lain dan suah menjadi permasalahan sehari-hari di kota lain seperti Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Tidak dapat kita bayangkan seandainya Kota Jakarta yang dalam bahwasannya adalah Ibukota negara, dimana semua sentral aktivitas negara Indonesia ini berlangsung ada didalamnya dan khususnya dibidang perekonomian. Apakah keadaan seperti ini akan terus dibiarkan bahkan dipertahankan. Hingga suatu ketika saya membaca sebuah artikel disebuah koran harian KOMPAS. Dalam artikel itu sipenulis yang bernama Sonny Keraf menyatakan ada tiga alternatif untuk maslah ini : 1.Pemindahan Ibukota negara, 2.Penyebaran kementrian, 3. batasi berbagai kegiatan ekonomi di Jakarta untuk dikembangkan lebih jauh, khususnya pembangunan mal, hotel, dan perguruan tinggi. Gagasan ini sangat inspiratif dan mengundang perdebatan dalam memberi berbagai alternatif solusi bagi pemecahan soal kemacetan di Jakarta, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

C.  Penyebab Kemacetan

Bila kita bicara lagi tentang kemacetan memang sangat menarik sekali meskipun juga membuat kita merasa pusing atau mungkin semakin terasa menjengkelkan. Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab terjadinya kemacetan itu. Berikut saya akan paparkan faktor-faktor yang mugkin menjadi sumber permasalahan utama. Pertama mulai dari arus sangat padat karena banyaknya jumlah kendaraan yang telah melewati kapasitas lebar jalan yang tersedia. Bayangkan saja berbagai macam merk kendaraan yang dipasarkan di negara kita Indonesia ini. Jumlah kendaraan yang diproduksi dan dipasarkanpun telah melampaui batas. Sepertinya pemerintah sendiri yang kurang tegas untuk mencegah terus bertambahnya jumlah kendaraan bermotor apalagi khusunya di Ibukota seperti Jakarta ini. Padahal cukup jelas memang dengan kenyataan atau fakta yang ada. Ini sangatlah mengganggu terciptanya kenyamnan dalam hal bertransportasi dimana keadaan ini cukup menyulitkan kita sendiri sebagai pengguna jalan. Kedua, tersedianya jumlah transportasi umum yang tidak memadai atau bahkan sebaliknya. Mengapa demikian? Itu semua karena kendaraan umum publik kurang memadai, contohnya seperti armada busway yang sebenanya kurang untuk banyaknya jumlah penduduk dan diitambah pula jalur busway yang memakan cukup banyak lebar jalan. Tetapi sebaliknya jumlah angkutan seperti mikrolet dan kopaja yang berlebuhan berakibat terganggunya lalu lintas terutama karena ketika kendaraan umum ini berhenti untuk mencari penumpang (Ngetem). Ketiga, terjadinya kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas. Walaupun itu terlihat  sangat  sepele tapi mengganggu juga, 4.Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan. Memang masalah banjir saat ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena tak kunjung selesai. Apalagi ketika musim hujan tiba, warga sudah mulai khawatir akan hal ini, 5.Ada perbaikan jalan, bagian jalan tertentu yang longsor, dan kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami. Faktor ini hanyalah tambahan saja karena permasalahan utama ada pada nomor 1, 2, dan 4.

D.  Dampak negatif kemacetan

Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang cukpu besar bagi kota jakarta. Berikut ini adalah beberapa bukti kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan antara lain disebabkan :

  1. Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah padahal jarak tempuh dapat dicapai dengan waktu yang lebih singkat. Ini merugikan sekali khususnya bagi para pekerja dan anak-anak sekolah. Akibatnya sering terjadi keterlambatan hanya karena macet.
  2. Pemborosan energi dan uang, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih tinggi yang mengakibakan dibutuhkannya banyak bahan bakar. Dan tentunya biaya untuk transportasipun yang dikeluarkan cukup banyak hanya untuk membeli bahan bakar. Bila dibandingkan dengan naik kendaraan umum biayanya lebih irit.
  3. Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi.
  4. Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal. Sehingga asap kendaraan yang dikeluarkan sangatlah banyak apalagi bagi kendaraan dengan emisi gas buang cukup ebesar. Ini sangatlah merugikan kesehatan orang lain karena asap adalah karbon monoksida yang bila terhirup akan menyebabkan sesak napas.
  5. Meningkatkan stress pengguna jalan, mengapa meningkatkan stress itu sebab segala pikiran yang mengganggu seperti takut terlambat karena sering telat dan di samping itu kebisingan serta faktor lain cukup mengganggu konsentrasi pengendara.
  6. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat, seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya.

E.  Kesimpulan dan Saran

Kita masuk kedala kesimpulan setelah banyak sekali membahas mengenai pengertian kemacetan hingga dampak negatifnya. Dari sini saya mencoba menyimpulkan betapa mengganggunya apa yang dinamakan traffic jam itu dan sulitnya untuk melepaskan ibukota negara ini dari belenggu kemacetan. Permasalahan ini sepertinya akan terus menjadi sorotan utama dalam agenda pemerintah khususnya DKI Jakarta dalam pembangunan kota untuk beberapa tahun kedepan. Tidaklah mudah mengubah susunan atau tatanan kota yang secara garis besarnya sudah berantakan sejak awal. Tapi ini semua memang tidak lepas dari permasalahan yang dihadirkan masyarakat itu sendiri. Mulai dari konsumsi kendaraan bermotor seperti mobil dan motor, banyaknya pedagang di emperan jalan, lalu yang cukup utama adalah pertambahan jumlah penduduk yang  semakin hari makin terus meningkat. Disini saya akan memberikan saran yang mungkin dapat cukup membantu anda untuk juga mampu berpikir kritis seperti saya. Saran-saran untuk pemecahan permasalahan mengatasi kemacetan.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehentip yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

a. Peningkatan kapasitas

Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti:

  1. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
  2. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
  3. Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
  4. Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
  5. Mengembangkan inteligent transport sistem.

b. Keberpihakan kepada angkutan umum

Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:

  1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
  2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway,
  3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura
  4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum,

c. Pembatasan kendaraan pribadi

Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim sebagai berikut:

  1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
  2. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
  3. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s