Manusia Dan Kebodohannya

Tentang kebodohan

Apakah itu  kebodohan? Kebodohan yang selalu lekat dalam diri manusia. Kita manusia sangat sering atau kerap kali berhubungan bahkan melakukan hal-hal bodoh. Sebuah kesalahan dan kegagalan yang manusia alami juga banyak bermula dari sebuah tindakan yang bersifat bodoh. Biasanya manusia melakukan kebodohan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu seperti nanti pada bahasan yang akan kita angkat. Dalam bahasan ini kita juga akan membahas mengenai kesalah kaprahan mengenai pendidikan yang dialihfungsikan oleh para orang tua sebagai contoh kebodohan. Pendidikan di sini memiliki fungsi untuk membebaskan diri manusia dari kebodohan,meski tidak semuanya. Di bagian awal ini saya mengajak anda untuk mengetahui lebih dulu apa itu kebodohan sebelum kita makin masuk dalam tema yang kita angkat. Mari kita mulai dari pengertian tentang sebuah kebodohan.

Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tapi sama sekali bodoh dalam ilmu bahasa.” Namun secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat “Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi.” Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat yang kedua tersebut bermakna sebuah ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.

Masyarakat di Indonesia sangatlah banyak jumlahnya, Bukan lagi ribuan bahkan sudah mencapai ratusan juta. Tetapi masih saja terpuruk dalam kebodohan dan keterbatasan. Padahal kenyataannya negeri tercinta kita ini (rasanya) tidak kekurangan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Mereka ada diberbagai tempat. Sebahagian masih merantau di tanah seberang dalam rangka menuntut ilmu maupun bekerja mengaplikasikan dan memperdalam ilmunya. Mereka ada yang duduk di posisi pengambil kebijakan (dari pusat hingga daerah), ada yang menjadi pengusaha, ada yang berkarir di jalur profesional, dan lain-lain. Semuanya telah, sedang, dan akan berbuat sesuatu dengan ilmu yang dikuasainya, entah itu secara benar (jujur, amanah, berakhlaq) maupun secara keliru (korupsi, tipu-tipu, menindas rakyat, merusak alam). Sungguh amat menarik mengamati manusia dari sisi penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan. Kita kan melihat manusia dari sisi yang jelas Orang bodoh. Ini adalah tipe paling rendah. Mereka tidak menguasai ilmu. Di sini ada dua sub tipe lagi yaitu:

(a) Orang yang tidak menyadari kebodohannya. Orang ini akan tetap konsisten dalam kebodohannya. Ia terus saja melaju dalam berbagai pemikiran dan perbuatan yang keliru karena tidak dilandasi oleh ilmu pengetahuan. Mereka ngeyel dalam kesalahannya. Ini diperparah oleh lahirnya sikap menolak kebenaran ilmu pengetahuan. Mereka akan “berkembang” menjadi manusia yang sombong dalam kebodohannya. Mereka adalah manusia yang tidak tahu dan tidak mau tahu. Ini jelas golongan yang merepotkan. Sub tipe ini jelas cukup repot diajak dialog. Terhadap mereka cukuplah diberikan bukti-bukti nyata (secara terus menerus) akan kebenaran ilmu pengetahuan dengan harapan hal ini akan membuka mata hati, meruntuhkan kesombongan, dan siap menerima ilmu.

(b) orang yang menyadari kebodohannya. Sub tipe ini masih “lumayan” ketimbang yang pertama. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan. Sikap ini akan melahirkan rendah hati. Mereka akan dengan rela menyerahkan segala sesuatunya kepada yang ahli (memiliki ilmu). Mereka memiliki cukup rasa malu akan kebodohannya. Tapi terkadang rasa malu ini berkembang jadi minder dan rendah diri. Ini jelas tidak baik. Kesadaran dan rasa malu akan kebodohan seharusnya diarahkan kepada semangat mencari dan mempelajari ilmu. Orang-orang seperti ini harus dimotivasi untuk tidak lelah berupaya keluar dari jurang gelap kebodohannya dan menaiki puncak gunung ilmu pengetahuan.

Kebodohan menurut hasil riset

Sejarah manusia adalah sejarah yang penuh dengan kebodohan. Tak ada satu orang pun yang kebal terhadap penyakit tolol ini. Kini para periset mencoba menjelaskan mengapa manusia paling pintar pun sering bertindak bodoh. Kita tahu bahwa manusia itu berbeda dengan hewan, yang punya insting untuk bertahan hidup. Sisi buruknya, manusia bahkan mampu membunuh dirinya atau sesama karena lebih cinta pada ide edan dan fanatisme. Kebodohan (stupidity) bisa dikatakan sebagai perusakan diri sendiri secara tidak sengaja. Kebodohan itu bakat yang secara tidak sadar bertindak melawan diri dan dalam kasus ektrem bisa sampai menyebabkan kematian. Menurut periset Belanda Matthijs van Boxsel, awal setiap kehidupan manusia bahkan selalu dimulai dengan kebodohan. Manusia itu satu-satunya makhluk hidup yang saat baru lahir menarik perhatian hewan liar untuk datang mendekat! Bagaimana caranya? Dengan tangisannya yang bervolume tinggi! Ini hanya satu dari seabrek kesalahan bodoh yang dibuat oleh setiap orang selama hidupnya, disengaja atau tidak.

Kebodohan dianggap sebagai lawannya kecerdasan, kendati tidak pandai itu hanya wilayah kecil dari semesta kebodohan. Sebagaimana ada bermacam wujud kecerdasan, ada pula kebodohan bertingkat. Para pakar kebodohan (yang tidak bodoh) menyebutnya sebagai hukum alam kebodohan. Topik penelitian tentang kebodohan disebut sebagai morologi, yang saat ini menjadi salah satu topik istimewa riset para ilmuwan. Mengapa? Karena tindakan bodoh dapat menjadi bencana. Ada semacam hadiah nobel untuk perbuatan-perbuatan terbodoh, namanya “Darwin Awards”. Kendati morologi baru ada pada tahap awal, cabang penelitian ini sudah mampu merumuskan 5 hukum alam kebodohan.

 

Hukum alam kebodohan ke-1: kebodohan itu menular

Tugas utama otak manusia adalah untuk tetap bertahan hidup. Hanya kebodohanlah yang mampu memperdayai kewajiban primer tersebut. Parahnya, fenomena ini dapat menulari manusia yang lain. Para peneliti dari London University telah membuktikan bahwa radikalisme, terorisme, dan para fanatik agama merupakan wadah penampung kebodohan. Hanya para pimpinan merekalah yang tidak bodoh. Pelaku bom bunuh diri bukanlah pimpinan yang pintar tersebut, melainkan anak buah yang sudah dicuci otaknya dengan metode piawai.

Orang pintar pun (sarjana, misalnya) bisa dibuat bodoh dengan metode hebat tersebut. Lalu IQ-nya pun akan turun pelahan. Anggota gerakan radikal, fanatik, dan teror umumnya punya IQ di bawah rata-rata, yakni 95. Mereka ini mudah dihasut dengan janji dan dogma berdasarkan agama. Pandangan dunia mereka sangat sempit dan menganggap diri sebagai pemilik kebenaran. Kepercayaan dan agama mereka diyakini sebagai satu-satunya yang sejati dan alami di seluruh jagad raya.

Di lain pihak, manusia yang pandangan dunianya terbuka telah diteliti punya IQ di atas rata-rata. Sikap mereka penuh toleransi, mudah mencerna pengetahuan baru, dan tidak terpaku pada ilmu atau pengetahuan apa pun yang sudah berusia ratusan atau ribuan tahun. Mereka cenderung suka belajar hal-hal baru, menanggalkan teori atau pengetahuan lama, dan lebih mudah menyelesaikan masalah. IQ mereka umumnya di atas 106.

 

Hukum alam kebodohan ke-2: manusia dalam kelompok itu lebih bodoh.

Para periset meneliti perilaku kawanan hewan yang hidup dalam kelompok. Mereka menamakannya sebagai kecerdasan kelompok. Dalam komunitas besar ini kecerdasan kelompok hewan lebih meningkat menjadi super organisme. Sebaliknya dengan manusia. Dalam kelompok, perilaku kecerdasan setiap manusia turun drastis. Suatu kejadian dramatis, misalnya tabrakan beruntun, mampu menyulut panik massa.

Gerombolan suporter sepakbola mudah sekali berlaku anarkis begitu ada yang memulai. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, setiap dari mayoritas suporter adalah orang santun. Demikian pula saat berdemonstrasi, jika ada yang menyulut maka setiap pendemo bisa beringas. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang punya kepentingan tertentu.

Kebodohan emosional itu (disulut oleh rasa cemas) akan mengambil-alih kendali sikap dan perilaku setiap individu. Tiga orang sudah cukup untuk menjadi satu komunitas. Makin banyak kian baik. Karena itu pidato atau orasi yang dihadiri ribuan orang merupakan sarana hebat untuk membangkitkan emosi manusia. Mengapa? Karena secara tidak sadar akan terbentuk sebuah hierarki. Setiap orang akan mendelegasikan sebagian kecerdasan dan pikirannya pada sang orator atau pimpinan kelompok. Ini diketahui betul oleh para orator.

Peristiwanya menjadi dramatis tatkala pengetahuan ini dipakai saat perang, penyiksaan, atau perampokan. Mayoritas manusia akan mengalihkan tanggung jawab pribadi pada kelompok dan mereka akan menjadi pelaku kekejaman berdalih kelompok. Contohnya bisa kita amati saat periode Nazi-Jerman dulu. Bagaimana mungkin sekelompok orang Jerman bisa makan minum dan pesta setiap hari, padahal beberapa kilometer di sebelahnya puluhan ribu tahanan Yahudi mati kelaparan? Sekalipun orang-orang Jerman itu tahu keadaan mengerikan di kamp konsentrasi, mereka tidak ambil pusing. Itulah hasil cuci otak sebuah rezim yang berhasil membuat rakyatnya menjadi zombie.

 

Apa sebenarnya hubungan antara kebodohan dan pendidikan dalam tema yang kita bahas ini. Hubungannya adalah pendidikan tidak bukan tidak lain adalah untuk membebaskan manuisa dari kebodohan. Dan tema yang kita angkat memang tidak begitu berhubungan, tapi hanya sedikit mengena saja. Taoi ada keadaan dimana seorang memaksakan kehendknya pada orang lain, dan bukankah itu sebuah kebodohan seperti yang disebutkan para periset-periset diatas.

 

Sarana apa yang membebaskan manusia dari kebodohan?

Pendidikan merupakan ikhtiar untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan yang dialami oleh masyarakat, baik dari soal kebodohan sampai ketertinggalan (Paulo Freire).

Selama ini terjadi salah paham atau salah kaprah mengenai tujuan dari diadakannya pendidikan. Banyak orang menilai dan beranggapan bahwa pendidikan adalah tempat untuk mendapatkan sebuah gelar atau ijasah. Di Indonesia khususnya di dalam dunia pendidikan fenomena ini sepertinya menjadi kebiasaan layaknya tradisi hingga sekarang. Orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya terutama hanya demi memperoleh gelar saja. Hasil akhir dari pendidikan yang demikian akan berdampak pada penyelewengan ilmu. Gelar ataupun ijasah seolah-olah menjadi ujung tombak untuk mengukur keberhasilan pendidikan manusia. Nilai kuantitaif dijadikan lebih tinggi dari ilmu yang didapatnya sendiri.
Pendidikan adalah tempat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu didapat dengan belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Tidak mungkin ada orang yang memperoleh ilmu tanpa yang namanya belajar. Orang yang menuntut ilmu tidak kenal batas usia. Seperti kata bijak tuntutlah ilmu mulai dari lahir hingga kembali mati. Ilmu merupakan pengetahuan (kognitif) yang diperoleh dari proses berpikir (rasio).Manusia yang senantiasa berpikir berarti ia selalu mencari ilmu. Manusia yang berilmu akan sanggup mengerti tentang arti kehidupan di dunia. Dunia yang luas penuh sekali dengan teka-teki kehidupan. Hanya dengan ilmulah semua teka-teki kehidupan dunia ini dapat dipecahkan. Di yunani masa silam, banyak lahir para pemikir atau filsafat yang handal. Aristoteles merupakan manusia yang senang berpikir dan mencari jawaban dari pertanyaan yang menggangu pikirannya. Dalam filsafat dikenal dengan ilmu metafisika dan estetika. Pertanyaan yang sering diajukan termasuk sederhana dan mendasar. Pertanyaan itu adalah apa, siapa, kapan, bagaimana, dimana, berapa. Dengan pertanyaan seperti itulah lahir seorang pemikir seperti aristoteles, Socrates dll.
Jalan menuju pendidikan dan ilmu sejati
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang istimewa. Dalam diri manusia dibekali akal pikiran dengan tujuan untuk berpikir. Berbeda dengan makhluk lain (hewan dan tumbuhan) yang tidak diberikan akal pikiran oleh tuhan. Namun hewan dan tumbuhan mampu untuk bertahan hidup di dunia dengan mengandalkan naluri atau nafsunya. Hewan akan makan ketika merasakan laper begitu pula tumbuhan. Manusia pun akan makan jika rasa lapar menyerang. Manusia sudah tentu beda dengan hewan dan tumbuhan. Pada hewan dan tumbuhan sifat naluri dan nafsu lebih dominan dan selalu terdepan. Lalu bagaimana dengan manusia??. Manusia yang berakal selalu menggunakan akal pikirannya lebih utama dan terdepan dari pada naluri dan nafsu. Jika ingin makan maka manusia senantiasa mencari dan memilih jenis makanan apa saja yang dapat dimakan dan sehat bagi tubuh.
Akal pikiran yang dimiliki manusia menjadikan kedudukannya lebih tinggi dari hewan dan tumbuhan. Manusia yang sadar dan mengerti tentang kegunaan akal dan pikiran akan berusaha untuk terus menggunakannya sebaik-baiknya. Pikiran yang ada pada manusia tidak akan dapat bertambah jika tidak pernah diasah. Akal pikiran tersebut diasah dengan cara belajar terus-menerus sampai kapanpun jua. Pikiran yang selalu terasah akan menghasilkan ide-ide yang cemerlang dan gemilang. Pendidikan merupakan salah satu tempat untuk mengasah otak/pikiran manusia agar terhindar dari yang namanya bodoh dan kebodohan.
Pendidikan menawarkan banyak pengetahuan (kognitif). Pengetahuan yang tidak akan nada habis-habisnya. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa pengetahuan selesai jika telah berhasil menempuh pendidikan. Pengetahuan wajib dikejar sampai kapanpun dimanapun berada. Apabila telah mendapatkan pengetahuan maka jangan pernah merasa puas pada pengetahuan itu. Jadilah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang telah didapatnya. Jika ada manusia pembelajar yang mudah merasa puas dengan pengetahuan yang diperolehnya maka ia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Pada dasarnya pembelajar sejati adalah manusia yang secara terus – menerus tanpa henti hingga ujung waktu untuk menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuannya. Baginya tidak ada kata berhenti untuk belajar. Menuntut ilmu harus dijalani dengan rasa semangat dan dilandasi cita-cita yang luhur. Menjadi pembelajar sejati adalah cita-cita manusia berpikir. Pendidikan hanya alat yang dapat mengantarkan manusia untuk menjadi pembelajar sejati. Otak manusia adalah alat yang mampu untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Pendidikan menjadi gerbang bagi manusia yang ingin berpikir. Gerbang yang hanya sebagai penstimulus manusia. Dari sini maka pendidikan yang bercita-cita pada ilmu pengetahuan dan bukan pada ijasah/gelar perlu mengetahui makna pendidikan. Oleh Prof Dr Sutjipto (guru besar UNJ) mengatakan bahwa (1) pendidikan mempunyai kedekatan atau bahkan kesamaan dengan proses belajar dan penggunaannya menjadi interchangable dengan belajar.( 2) pendidikan juga bermakna pelatihan, karena pelatihan juga membantu seseorang untuk mampu melakukan penyesuaian terutama dalam melakukan sesuatu. Pendidikan adalah belajar untuk mengasosiasikan stimulus dan respons; (3) pendidikan juga berarti proses untuk menguasai ilmu, ilmu sebenarnya adalah value free. (4) Jika proses interaksi itu menyangkut belajar untuk hidup dalam suatu tatanan masyarakat serta menginternalisasi nilai-nilai, maka pendidikan berarti pendidikan nilai.
Pendidikan untuk nilai (value free) bukan nilai untuk pendidikan
Pendidikan ibarat sebuah ladang ilmu yang tak pernah kering dan kekeringan. Pendidikan menjadikan manusia lebih bernilai dan berharga karena selalu berpikir tanpa henti. Ilmu dipandang sebagai sebuah pengetahuan yang tidak dapat ditukarkan atau tergantikan oleh apapun (emas atau berlian). Ilmu mampu mengubah diri manusia menjadi lebih bernilai. Manusia juga mampu mengubah dunia dengan ilmu. Namun ingat bahwa ilmu harus di ikuti dengan iman. Iman merupakan keyakinan manusia kepada sang khalik (4w1). Iman dan ilmu harus berjalah beriringan atau seimbang dan saling melengkapi. Jangan sampai berat sebelah karena akan berakibat fatal. Dalam hal ini Rasulullah nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ilmu tanpa iman akan gersang, dan iman tanpa ilmu akan binasa.
Dalam dunia pendidikan terdapat ujian atau test yang bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan manusia (pelajar/mahasiswa). Nilai diberikan baik jika hasil tes atau ujian berhasil dikerjakan dengan baik dan benar. Hal itu adalah pengukuran yang tidak wajib untuk dilakukan. Pengukuran yang berakhir dengan penilaian baik buruk akan membawa dampak positif dan negatif bagi pembelajar. Dampak positif tersebut diantaranya penilaian akan memicu semangat pembelajar untuk terus belajar. Sedangkan dampak negatifnya yaitu seorang pembelajar akan melakukan hal apapun (cara yang terlarang) untuk dapat memperoleh nilai yang baik. Tekanan dan keharusan untuk mendapatkan nilai baik menjadi pemicu pembelajar untuk berbuat terlarang.
Salah seorang pengamat pendidikan YB Manguwijaya mengatakan bahwa pendidikan untuk kebebasan. Kebebasan yang berarti melawan kebodohan melalui pendidikan. Kebodohan merupakan penyakit yang seharusnya diobati karena akan membawa resiko kehancuran umat. Obat yang mujarab yaitu melalui pendidikan. YB Mangunwijaya juga berkata bahwa ‘pendidikan berbasis realitas sosial’. Pendidikan merupakan bagian dari aktifitas social manusia. Pendidikan yang mempelajari sains dan social maka tidak terlepas untuk mengerti tentang realitas social. Realitas social yaitu keadaan sebenarnya yang sedang terjadi di masyarakat yang perlu untuk diketahui dan dipelajari.
Pendidikan untuk semua kalangan
Pendidikan merupakan hak asasi semua orang yang hidup di bumi ini. Maka kewajiban bagi Negara dan pemerintah untuk terus mengupayakan pendidiakan yang berkualitas bagi masyarakatnya. Jika pendidikan dilanggar atau tidak disediakan oleh Negara maka Negara telah melanggar hak asasi semua orang. Dalam menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia. Ilmu merupakan harta yang sulit untuk di dapat. Orang bisa dengan mudah untuk mendapatkan uang atau materi lainnya, namun ilmu tidak demikian. Ilmu adalah senjata untuk menuju manusia yang cerdas dan berwawasan. Tanpa ilmu maka manusia secara perlahan menyiapkan kehancuran bagi dirinya. Dimanapun bumi berpijak, tuntutlah ilmu hingga akhir hayatmu. Pendidikan memang sangatlah berarti sekali dalam hal memberantas kebodohan yang selalu menjadi momok dalam kehidupan kita manusia.

Kesimpulan

Kebodohan memang menjadi sebuah momok besar yang menjadi kajian bersama. Dan betapa buruknya manusia yang sudah terbiasa hidup berpacu dari kebodohan. Seperti pendapat dari para riseter yang mengatakan kebodohan adalah perusakan dirisendiri secara tidak sengaja. Mengapa demikian, itu semua karena kebodohan menjadi bakat yang tidak disadari melawan diri sendiri. Disebutkan pula dua hukum alam kebodohan yang pertama memiliki inti bahwa kebodohan dapat ditularkan kepada orang lain dimana orang yang menularkan tidaklah bodoh. Tetapi yang bodoh adalah orang yang hendak mengikutinya cukup dengan dipengaruhi tanpa mengerti bahwa ia telah dipengaruhi yaitu cuci otak. Yang kedua berinti bahwa orang yang bekelompok jauh lebih bisa bertindak bodoh lebih rendah dari hewan yang berkelompok tetapi berguna, berbeda dengan manusia yang bisa anarkis tanpa berpikir panjang.Saya setuju dengan pendapat riseter yang pertama dalam sarana apa yang membebaskan manusia dari kebodohan, bahwa terkadang orang tua memaksakan kehendaknya yang secara tidak lain sama halnya dengan mencuci otak. Mengapa demikian, karena di dalam tahap ini anak diarahkan secara tidak langsung demi kebanggaan orang tuanya meski dalam kenyataan tidak semua demikian. Dengan embel-embel fasilitas, prospek kerja yang baik,dll pada dasarnya hanya mengarahkan anaknya untuk menjadi apa yang orang tua kehendaki. Disini kebodohan tidaklah menjadi berkurang tetapi malah semakin parah karena bukan ilmu yang mereka kejar tetapi hanyalah sebuah gelar yang tinggi tanpa didampingi pengetahuan yang tinggi. Semakin banyaklah dan semakin hancurlah mausia yang bodoh di negeri ini. Menurut para ahli di bidang pendiikan mengatakan bahwa pendidkan sangatlah membantu dalam mengembangkan kehidupan. Jadi tidak seharusnya hak manusia untuk dibatasi dalam hal memproleh pendidikan yang baik dengan maksud agar menghilangkan kebodohan. Cukup sekian saya rasa karena keterbatasan dari saya untuk terus berargumen terlalu panjang. Dan terima kasih saya ucapkan bagi para sumber. Sekian terima kasih.

 

 

Kutipan : http://www.sediadisini.com/tahukah-anda/fakta/518-hukum-alam-kebodohan, http://semangatbelajar.com/tag/kebodohan/.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s