Pentingnya Pendidikan Multikultural di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya dengan suku, agama, dan ras. Memang negara kita ini adalah negara yang sungguh luar biasa besarnya. Terkadang kita tidak memahami hal tersebut yang harusnya kita pahami dan kita hargai. Bagaimana menjaga kesatuan kita sebagai satu bangsa yang besar dan beragam. Karena pada kenyataannya kita masih mengutamakan yang namanya SARA. Darimana anda berasal, keturunan mana, apa kepercayaan yang anda peluk. Padahal hal tersebut sangatlah tabu untuk kita tanyakan apalagi kita permasalahkan. Negara kita Indonesia adalah negara yang sedang tumbuh untuk menuju demokrasi, yang pada awalnya adalah aspirasi politik yang ditempuh melalui proses yang utamanya berpuasat pada rakyat. Yang dimaksud aspirasi adalah semua pendapat merupakan inspirasi dan juga penetu arah dalam proses pengambilan keputusan publik. Sehingga masyarakat dari semua lapisan, etnis, agama dan sebagainya merasa ikut dilibatkan dan dihargai pendapatnya maupun kepentingannya.

Indonesi merupakan salah satu negara multikultral terbesar yang ada didunia. Karena menurut fakta dan juga pernyataan itu sesuai dengan keadaan sosio-kultur maupun geografis yang begitu luas dan juga beragam. Ada sekitar 300 suku yang menggunakan 200 bahasa yang berbeda. Diperkirakan pada tahun 1980an, Sekitar 82,2% penduduk terdiri dari 14 etnik utama dengan anggota lebih dari satu juta orang. Dan sekitar 99,4% penduduknya adalah pengaanut lima agama terbesar didunia. Dan persentasenya Islam kurang lebih 86,9%, Protestan 6,5%, Katholik 3,15%, Hindu 1%, dan Budha 0,6%.  Oleh karena itu Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya atau juga multikultural. Pada masyarakat multikultur inilah, mereka memiliki tipe/pola tingkah-laku yang khas antara yang satu dengan yang lainnya. Sesuatu yang dianggap sangat tidak normal oleh budaya tertentu tetapi dianggap normal atau biasa-biasa saja oleh budaya lain. Perbedaan semacam inil yang seringkali menyebabkan kontradiksi atau konflik, ketidak-sepahaman dan disinteraksi didalam masyarakat multikultur tersebut. Seperti halnya Indonesia yang selalu penuh dengan isu- isu yang berbau SARA. Kerusuhan berbau SARA yang merebak di banyak tempat di wilayah NKRI seperti di wilayah Ambon, Poso, Sampit dan sebagainya, merupakan bagian dari adanya kesalahpahaman. Dari banyak studi yang telah dilakukan, salah satu penyebab utama sebenarnya adalah akibat lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang adanya sebuah perbedaan. Yang selalu saja menjadi hambatan bagi kita bangsa Indonesia untuk bersatu bersama membangun bangsa yang besar.

Di zaman orde baru, dengan diselimuti kata “Persatuan” dan “Kesatuan” yang dikawal serdadu berusaha untuk membuang potensi benturan atas dasar Suku, Agama, Ras dan antar Golongan (SARA). Namun ketika orde baru runtuh, terlihatlah jurang pemisah antar suku, ras, agama dan golongan yang berakibat terjadinya kerusuhan Mei 1998 yang menewaskan kurang lebih 1000 orang (mayoritas adalah keturunan Tionghoa) di Jakarta yang pada dasar permasalahannya adalah adanya ketidakadilan. Selain masalah kerusuhan yang berbau ras, ada juga beberapa wilayah seperti, Aceh, Maluku dan Papua yang berusaha memisahkan diri dari negara Republik Indonesia, yang akar masalahnya adalah adanya pengerukan sumber daya alam yang besar namun tidak membawa perubahan pada masyarakat dan daerah sekitarnya tetapi malah membawa perubahan pada daerah yang sebenarnya memiliki potensi alam yang hanya sedikit. Hal-hal seperti itu tidak akan pernah terjadi seandainya kita mampu menghargai sesama dan tidak berusaha untuk menang sendiri atau bersikap individualis.

Salah satu upaya untuk dapat menghargai adanya perbedaaan yaitu dengan memberikan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleransi terhadap keanekaragaman budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat plural. Tidak seperti pendidikan monokultural yang selama ini dijalankan dimana telah mengabaikan nilai dari keunikan dan pluralitas yang berakibat terpasungnya pribadi yang kritis dan kreatif.

Pendidikan multikultural sebenarnya didasari oleh konsep pemaknaan perbedaan yang unik pada tiap individu maupun masyarakat. Pendidikan multikultural mengandaikan sekolah dan kelas dikelola sebagai suatu simulasi arena kehidupan nyata yang plural, terus berubah, dan berkembang. Institusi sekolah dan kelas adalah wahana hidup dengan pemeran utama peserta didik dan guru serta seluruh tenaga kependidikan sebagai fasilitator. Kegiatan belajar-mengajar dikembangkan sebagai wahana dialog dan belajar bersama serta membuang pemikiran bahwa guru merupakan gudang ilmu dan nilai yang setiap saat diberikan kepada peserta didik, melainkan sebagai teman dialog dan partner dalam menciptakan suasana yang harmonis. Selain itu praktik penerapan keagamaan juga akan mempertajam rasa kepekaan dan solidaritas antar pemeluk agama.

Oleh karena itu, kita harus tahu bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mengajarkan “ini” dan “itu”, tetapi juga memberikan pendidikan pada anak agar menjadi manusia yang berbudaya dan menghagai peradaban yang ada. Dengan demikian,tidak ada lagi yang namanya pendidikan yang menghilangkan realitas tentang keberagaman dari suatu budaya. Justru kita haruslah mampu membangun persatuan dan kesatuan serta menghilangkan isu SARA yang sangat mengerikan. Dengan keanekaragamn ini marilah kita bersama-sama berbangga diri diatas perbedaan untuk bersatu membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s